Cerpen "Sebotol Mineral"
Saat senja, ibu paruh usia tadi menghilang dengan cepat. Setelah ia
mengucapkan terima kasih atas sebotol mineral dari mas Tohari. Mas
Tohari, berkali – kali keluar rumah makan, namun,tetap saja bayang –
bayang ibu itu takterlihat. Ia menyesali dirinya.“Mungkin ibu itu
sudah jauh,”kata Halim. Tapi, sepertinya ibu itu masuk gang. Mas
Tohari hendak mengajak Halim.
Di Ubud ini hanya masakan Padang yang mampu menggairahkan lidah
mereka, untung saja Halim menyewa motor untuk mengelilingi Ubud ini,
dan dapatlah rumah makan khas Minang ini. Mereka selalu sahur dan
berbuka puasa di rumah makan sebelah timur kota Ubud ini.
Dan, senja tadi, ibu paruh usia itu muncul di depan pintu, ia hendak
membeli sebotol mineral besar. Namun uang ibu itu tak mencukupiuntuk
membeli minuman itu. Mas Tohar lalu menyuruh pedang itu untuk memberi
sebotol mineral untuk ibu paruh usia tersebut.
Setelah mengucapkan terima kasih ibu itu tiba – tiba menghilang
begitu cepat. Kemudian, mereka sadar bahwa ibu juga memerlukan uang
untuk membeli makanan buka puasa. Mas Tohari sangat menyesali
keteledorannya. Ia gelisah sekali akan hal itu.hingga waktu buka puasa
pun tiba. Namun, Mas Tohari tak lagi berselera mencicipi sajian itu.
Ia hanya membasahi tenggorokannya dengan seteguk air, kemudian
keluar,setelah ia memberi uang Rp. 100 ribu kepada Wira untuk membayar
pada pemilik rumah makan tersebut.
Mas Tohari menyusuri Ubud menuju barat sambil bertanya – tanya kepada
dirinya. Mengapa ia masabodo terhadap nasib ibu itu. Pada hal hanya
Rp. 10 ribu, namun hatiku tak tergerak utuk merogoh sakuku dan memberi
selembar atau dua lembaruangkepada ibu itu.hingga pukul. 21.15 mas
Tohar belum kembli ke rumah makan. Teman – temannya khawatir mas
Tohari tersesat. Lalu, mereka memutuskan untuk menceri mas Tohari dan
berbagi arah. Halim ke barat, Dendi ke timur dan Wira ke utara. Pada
jam 23 mereka sudah berkumpul di depan Casaluna.
Waktu pun terus berjalan, mereka lalu berkumpul di Casaluna, namun
mas Tohari tidak ditemukan. Kecemasan mereka makin menjadi – jadi.
Sampai esok pagi, mas Tohari tak kembali ke penginapan. Dan, ibu paro
usia itu jugasulit dijumpai lagi di Ubud. Mas Tohari sia – sia
menemukan ibu itu. Sementara, ketigarekannya, juga sia –sia menunggu
kedatangan mas Tohari. Layaknya mendapati sebatang jarum di keluasan
padang pasir.